Survey Studi Tiru Bank Sampah Ngoro-Oro Patuk Gunungkidul

Waktu menunjukkan pukul 12.40 WIB dan ponsel saya bergetar. Ada nama tertera, "Ari Forkom" memanggil. Dan tak perlu waktu lama saya konfirmasi bahwa saya telah siap dan segera meluncur.

survey ke ngoro-oro

Iya, rencananya hari ini, Jumat 29 Desember 2023 saya dan beberapa kawan Forum Komunikasi (Forkom) Desa Sidomoyo akan melakukan survey. Tujuan dari kegiatan ini adalah Desa Ngoro-oro yang ada di Patuk, Gunungkidul.

Sedianya kami akan melakukan studi tiru tentang pengelolaan sampah. Namun sebelum datang beserta rombongan sesungguhnya ada tim kecil yang meluncur terlebih dahulu.

Hari ini tim dari forkom ada Ari Anggoro selaku ketua, saya wakil ketua, sekretaris Ika Mayawati dan bendahara Suci Pasha. Sementara itu dari kalurahan ada Ulu-ulu (Wisnu Hardono), Tata Laksana (Dwi Atmadi) dan Pangripto (Supriyadi).

Perjalanan cukup panjang, dimana kami pada akhirnya berangkat pukul 13.00 WIB lebih sedikit. Maklum saja hujan tiba-tiba turun dan harus mengkondisikan satu dengan yang lain.

Titik kumpul yang sedianya di tempat Ulu-ulu urung dilaksanakan dan pada akhirnya beliau menjemput peserta satu demi satu. Setelah seluruh personil masuk ke dalam mobil kami pun meluncur.

Dari arah Jalan Sidomoyo menuju Ring Road Selatan dan masuk Jalan Wonosari dan tiba di perempatan Patuk. Selanjutnya ambil arah gunung Purba Nglanggeran untuk kemudian kami tiba di Ngoro-oro. 

Baca juga: Ke Tirto Langgeng untuk Makan Mie Instan

Bank Sampah Ngoro-Oro Patuk Gunungkidul

Jam 03.00 lewat sedikit kami pun tiba di salah satu masjid yang ada di Desa Ngoro-Oro. Sebelum lanjut kami pun salat ashar terlebih dahulu.

Dan ketika kami keluar dari masjid ternyata pak Lurah sudah menunggu. Ketika dirasa siap kami pun meluncur ke tempat yang letaknya tidak begitu jauh dari masjid.

Tujuan kami yang pertama tentu saja Bank Sampah yang dikelola Bu Jumirah. Ibu paruh baya ini telah cukup lama mengelola bank sampah.

Beliau mampu menyulap sampah menjadi sesuatu yang menarik dan salah satu yang nampak jelas di depan kita adalah bunga dari kresek. Selain itu ada juga nampan yang terbuat dari kardus bekas.

Menurut Bu Jum, demikian sering disapa sejatinya dari sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai lebih. Sampah apapun itu, hanya saja tetap butuh kesabaran dan ketelatenan.

Akan lebih mudah bila pemilahan sampah dilakukan sejak awal dan masing-masing dipisahkan sesuai jenisnya. Sebagai contoh untuk botol minuman kemasan itu harusnya terpisah menjadi 3, mulai dari tutup, botol itu sendiri dan plastik label.

Dari sampah yang ada kemudian bisa diubah menjadi berbagai bentuk mulai dari kerajinan tangan hingga hiasan yang kemudian bisa dipajang di rumah. Memang butuh sedikit kreatifitas tapi akan tumbuh dengan sendirinya.

Baca juga: Tahun Baru yang Biasa Saja

Belajar Membuat Eco Enzyme

Hal menarik yang juga bisa dilakukan di tempat ini adalah membuat eco enzyme. Cairan unik ini diklaim memiliki seribu manfaat. Dan benar saja, cairan berwarna gelap ini bisa digunakan sebagai cairan pembersih piring, baju, pupuk hingga terapi kulit bagian luar.

Cara membuatnya pun cukup mudah dan langsung bisa dipraktikkan. Berbahan sampah rumah tangga mulai dari sisa kulit pisang, kulit pepaya, bongkot kangkung, kulit buah naga hingga kulit jeruk. Untuk bahan tambahan bisa berupa tetes tebu atau bila ingin lebih alami bisa menggunakan gula jawa atau gula aren.

Bila semua bahan telah disiapkan maka potongan buah tersebut dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil. Selanjutnya masukan dalam kemasan berupa botol dan terakhir diberikan tetes tebu / gula. Sementara itu untuk bahan yang dihindari dalam pembuatan eco enzyme adalah sawi, kobis, kulit alpukat, kakao.

Tutup botol dengan plastik dan ikat. Biarkan terjadi proses fermentasi dan pada umumnya akan berlangsung selama 3 bulan. Perlu dicatat pada hari ke-7 plastik untuk dilubangi dengan jarum guna mengurangi gas yang ada dalam botol.

Usai belajar banyak hal tentang eco enzyme dan sampah kami pun pamit pulang. Namun yang cukup menyita waktu justru memetik jambu monyet.

Ditemani Pak Lurah beserta Bu Jum kami layaknya anak kecil yang berburu buah unik ini. Ada beberapa diantara kami yang membawa pulang sebagai buah tangan. Baik itu jambunya maupun medenya.

Ke Patuk Gunungkidul tak lengkap rasanya tanpa menikmati keindahan alam yang ada. Dari bank sampah ini kami meluncur menuju satu tempat yang menyajikan view berupa Kota Sleman.

Kami pun menunggu hingga sedikit gelap guna mendapat view terbaik disaat lampu telah dinyalakan. Di tempat ini pun menyediakan berbagai menu yang bisa dipilih untuk mengisi perut. 

Tetap istiqomah dengan menu favorit berupa es teh. Padahal ada menu lain yang harus dicoba seperti wedang uwuh dan jahe yang menghangatkan.

Usai sholat magrib dan dipimpin pak Lurah langsung kami pun pamit pulang. Kali ini menyusuri jalan berbeda dari jalur keberangkatan. Mencoba jalur baru bahwa untuk ke Ngoro-oro kini ada banyak alternatif jalan.

Apabila untuk tiba hanya butuh waktu 2 jam saja tapi jalur pulang ini memakan waktu lebih dari 3 jam. Bukan hanya karena memilih jalan yang lebih jauh tapi kemacetan Jogja sebagai dampak libur Natal dan tahun baru pun tak terelakkan.

Posting Komentar untuk "Survey Studi Tiru Bank Sampah Ngoro-Oro Patuk Gunungkidul"