Pergeseran Paradigma atau Keegoisan Semata

Jujur selain takut dengan mata pelajaran hitungan saya itu juga takut dengan mata pelajaran agama. Wajar kemudian sejak duduk di bangku TK hingga perguruan tinggi saya lebih memilih sekolah yang biasa.

pergeseran paradigma

Namun kini, melihat apa yang ada disekitar mungkin tidak untuk anak saya. Begitu saya takut apa yang namanya pergaulan bebas dan kenakalan di luar batas.

Ada diantara mereka anak kecil yang sudah mengenal pacaran hingga tak jarang sudah kelewatan. Pun ada juga kenakalan yang menjurus ke kriminalitas. Tak ingin itu terjadi maka benteng pertama yang harus diperhatikan selain keluarga tentu saja memberikan pendidikan yang baik.

Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak tentunya, dengan tetap memperhatikan minat bakat dan kesukaan. Cara ini bisa jadi lebih efektig untuk membuat anak tumbuh kembang dengan sempurna.

Bukan hanya fisik semata tapi lebih dari itu dari faktor psikologis dan sosial. Semua itu tentu tak terjadi begitu saja dan harus ada upaya lebih. Melibatkan seluruh anggota keluarga dan lingkungan yang kondusif.

Pernah satu ketika melihat anak kecil belum genap 5 tahun sudah bisa menyapa, “Pie kabare su.” Dan anehnya orang dewasa yang disapa cuma tertawa. 

Menjadi sebuah ketakutan tersendiri dimana saya juga miliki anak umur 6 tahun. Jangan sampai ia kemudian juga melampaui batas.

Baca juga: Drama Rumah Tangga, Emak VS Anak

Penguatan Pendidikan Agama

Satu hal yang kini saya sepakati bahwa pendidikan agama menjadi salah satu kunci untuk cegah itu semua. Mendekatkan anak untuk lebih dekat dengan apa saja yang diajarkan agama.

Mulai dari rajin mengajarkan 3 kata sakti, “tolong, terima kasih dan permisi.” Dalam hal apapun kata tersebut harus diucapkan.

Semisal bila ia ingin sesuatu maka apa yang harus dikatakan kali pertama adalah ‘tolong.’ Dan setelah mendapatkan sesuatu maka harus mengatakan ‘terima kasih.’

Sadar betul sebagai orang tua yang minim pemahaman agama maka mau tak mau harus bisa menciptakan kondisi minat ke masjid. Bukan hanya sebatas untuk menjalankan sholat saja tapi di tempat ini juga anak akan belajar agama.

Tak cukup memerintah tapi saya juga akan menjadi contoh. Meski dalam kondisi apapun sebisa mungkin membersamai anak untuk rajin ke masjid.

Pergeseran Paradigma atau Keegoisan Semata

Kembali ke pesan yang ingin saya sampaikan, apakah semua itu Pergeseran Paradigma atau Keegoisan Semata maka jawabanya bisa jadi adalah keduanya. Di satu sisi kini saya yang telah menjadi orang tua mulai sadar betul bahwa ada banyak hal yang harus diajarkan kepada anak.

Di sisi lain mungkin saya egois, tak ingin anak seperti orang tua yang minim akan kemampuan agama. Ingat betul hampir semua doa, hafalan dan surat dalam sholat dipelajari saat duduk dibangku sekolah. 

Tak ingin ini terjadi maka mendekatkan anak dengan orang-orang baik adalah solusi yang dipilih. Semoga ia tertular untuk pula melakukan hal-hal baik dan menjauhi apa yang menjadi larangan agama.

Posting Komentar untuk "Pergeseran Paradigma atau Keegoisan Semata"